Kamis, 29 Agustus 2013

suwida




Hari ini aku di suwida (suwida = wisuda, kalo kalian generasi emas 90an mungkin kalian akan tau dari mana kata ini berasal.). Akhirnya sang mahasiswa depresi lulus juga. Ya walaupun hanya mengantongi predikat lulus “alhamdulillah (dari pada gak lulus makbro) ya tetep harus disyukuri. Dan karena predikat tersebut keluarlah kata – kata “halus” dari mamakku
“mak, gimana kalo kita foto dipapan bunga itu” seraya menunjuk papan bunga yang telah disediakan sebagai latar belakang kenangan – kenangan suwida oleh fotografer musiman “bagus foto disitu, bisa ditempel nama. Tapi bayar 50 ribu?”
mamakku diam sejenak lalu berkata “ahh, mahal kali itu” dengan logat mendayu melayu “kalo kau bisa lulus dengan pujian mamak mau bayar segitu, tapi karena kau lulus pun alhamdulillah mendingan nebeng sama kawanmu aja biar gratis”
“….”

Mamak ku itu pelit, namun letak keistimewaan mamakku adalah mampu mencari kata – kata halus agar uangnya tak keluar. That’s my mom.

Anyway disini aku gak bakal menceritakan bagaimana pelitnya mamakku atau senangnya hatiku karena sudah suwida. That’s so mainstream. Disini Aku akan menceritakan bagaimana sudut pandangku melihat situasi suwida yang telah aku lewati selama dua hari. Serta bagaimana aku menggambarkan keresahan – keserahan dari kejadian yang aku alami

27 agustus 2013 hari pertama suwida (suwida lokal)

Kata pertama yang bisa menggambarkan hari itu adalah “Fuc*ing Hot”. Panas yang luar biasa, ditambah lagi acara diadakan dihalaman depan fakultas teknik dengan hanya bermodal tenda kawinan. Karena memang posisi duduk aku paling ujung,  tanpa halang rintang cahaya matahari  dengan riang gembira membelai wajah hitam eksotisku. Kalo kata syahrini panasnya cetar membahana badai. Disaat konsentrasi terbagi antara melindungi wajah eksotisku dengan mengikuti tertib acara suwida dengan khidmat (baca : menggosip dengan suwidawan sebelah), tiba – tiba sesosok makhluk kecil tanpa dosa mengalihkan fokusku. Makhluk kecil tersebut dengan entengnya berjalan menuju meja pemimpin acara kemudian tanpa tedeng aling – aling mengambil air mineral diatas meja pimpinan acara. Kejadian tersebut memang gak sampe membuat acaranya terhenti. Toh pimpinan acara hanya tertawa kecil melihat tingkah pola makhluk kecil itu. namun dari kejadian itu aku berpikir, terkadang menjadi anak kecil itu enak ya, melakukan apa saja yang dia suka tanpa pernah takut resiko apa yang diterima. Bahkan hal seperti tadi dianggap lucu bagi orang dewasa (termasuk aku). sementara jika orang dewasa melakukan hal tersebut pasti bikin heboh acara dan ya sekurang – kurangnya di kira orang gila. Namun begitulah anak – anak bertindak semaunya, asalkan hati senang just do it and don’t care people.


28 agustus 2013 hari kedua suwida (my mom says that “suwida negara”)

Hari kedua dan terpaksa aku harus mengganti kostum. Gak mungkin aku memakai kostum kemarin yang telah terukir kaligrafi indah berwarna coklat di belakang kerah . Lagi pula kostum yang awalnya berwarna putih bersih telah berubah corak menjadi coklat polkadot terkena tumpahan saos. Kostum kali ini hitam tanpa corak. Ketika aku melihat diriku dicermin dengan setelan baju hitam celana hitam, aku merasa seperti upil hitam berjalan. Anyway toga suwidaku berwarna dasar hitam (jelas donk, dimana2 juga gitu warnanya) dengan garis vertikal hijau ditengah toga serta dilengkapi dengan syal berwarna hijau juga.. Sekilas dengan warna hijau tersebut aku merasa ini adalah suwida kelas slytherin. Aku merasa seperti malfoy yang akan di suwida oleh dombledore di hall hogwart schools. aku memperhatikan sekeliling ruangan dan hal yang menarik perhatianku adalah suwidawati. They are really care about their look. Hari itu aku melihat wanita sebagai ondel – ondel dengan make up mereka. Make up mereka amat sangat tebal dan mencolok. Ya walaupun ada juga make upnya natural dan tipis hingga menghadirkan kesan sederhana namun mewah. Tapi overall mereka “menor”. Aku sempat berbincang dengan temen cewekku yang kebetulan bersebelahan denganku duduknya. Sebut saja inisialnya mira andriani (itu nama asli begok)
            “koq telat ko mir”
            “telat bangun buat dandan” sambil membetulkan jilbanya “jam 5 pagi baru sampe aku di salon”
            “jadi harusnya jam berapa standarnya ke salon biar gak telat”
            “ya minimal jam 4 sih, biar cepet” kemudian mira benerin bulu mata ekstensionnya “untung bulu mata ini gak berat, jadi gak ribet”
            “lah emank biasanya bulu mata itu berat ya”
            “iya ada sebagian bulu mata yang berat, jadi gampang copot”
            “ulala, jadi sepulang dari acara, sebagian wanita bakal berotot donk kelopak matanya”
            “lahh koq bisa gitu”
            “ya iyalah, kelopak matanya harus menganggat beban berat yaitu bulu mata ekstension”
            “ya gak gitu juga kale”

Aku berpikir begitu repotnya menjadi wanita ketika suwida. Mereka harus bangun pagi – pagi sekali kemudian pergi ke salon Cuma buat dandan. Kalo telat dikit aja, alamat mereka harus menunggu, karena memang saat suwida salon kebanjiran order make up. Biaya acara suwida pria dengan wanita itu amat sangat jauh berbeda. Itulah mengapa ada istilah pria berasal dari mars dan wanita berasal dari venus. Dua makhluk dari planet berbeda, namun meski demikian dibalik seorang pria yang sukses pasti ada wanita yang sabar.

6 komentar:

  1. mantappp gihhh, aq bangun waktu wisuda setengah 8 wak...hahahhaa... lanjutkannn karya mu anak muda... ;)

    BalasHapus
  2. yours mom is awesome (asem) sugih..wkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkkw, itulah emak ku... sama lah cem aku,hohoho

      Hapus