Hari ini aku di
suwida (suwida = wisuda, kalo kalian generasi emas 90an mungkin kalian akan tau
dari mana kata ini berasal.). Akhirnya sang mahasiswa depresi lulus juga. Ya
walaupun hanya mengantongi predikat lulus “alhamdulillah (dari pada gak lulus makbro)
ya tetep harus disyukuri. Dan karena predikat tersebut keluarlah kata – kata
“halus” dari mamakku
“mak, gimana kalo kita foto dipapan bunga itu” seraya menunjuk papan
bunga yang telah disediakan sebagai latar belakang kenangan – kenangan suwida
oleh fotografer musiman “bagus foto disitu, bisa ditempel nama. Tapi bayar 50
ribu?”
mamakku diam sejenak lalu berkata “ahh, mahal kali itu” dengan logat
mendayu melayu “kalo kau bisa lulus dengan pujian mamak mau bayar segitu, tapi
karena kau lulus pun alhamdulillah mendingan nebeng sama kawanmu aja biar
gratis”
“….”
Mamak ku itu
pelit, namun letak keistimewaan mamakku adalah mampu mencari kata – kata halus
agar uangnya tak keluar. That’s my mom.
Anyway disini
aku gak bakal menceritakan bagaimana pelitnya mamakku atau senangnya hatiku
karena sudah suwida. That’s so mainstream. Disini Aku akan menceritakan
bagaimana sudut pandangku melihat situasi suwida yang telah aku lewati selama
dua hari. Serta bagaimana aku menggambarkan keresahan – keserahan dari kejadian
yang aku alami
27 agustus 2013 hari pertama suwida (suwida
lokal)
Kata pertama
yang bisa menggambarkan hari itu adalah “Fuc*ing Hot”. Panas yang luar biasa,
ditambah lagi acara diadakan dihalaman depan fakultas teknik dengan hanya
bermodal tenda kawinan. Karena memang posisi duduk aku paling ujung, tanpa halang rintang cahaya matahari dengan riang gembira membelai wajah hitam
eksotisku. Kalo kata syahrini panasnya cetar membahana badai. Disaat konsentrasi
terbagi antara melindungi wajah eksotisku dengan mengikuti tertib acara suwida dengan
khidmat (baca : menggosip dengan suwidawan sebelah), tiba – tiba sesosok
makhluk kecil tanpa dosa mengalihkan fokusku. Makhluk kecil tersebut dengan
entengnya berjalan menuju meja pemimpin acara kemudian tanpa tedeng aling –
aling mengambil air mineral diatas meja pimpinan acara. Kejadian tersebut
memang gak sampe membuat acaranya terhenti. Toh pimpinan acara hanya tertawa
kecil melihat tingkah pola makhluk kecil itu. namun dari kejadian itu aku
berpikir, terkadang menjadi anak kecil itu enak ya, melakukan apa saja yang dia
suka tanpa pernah takut resiko apa yang diterima. Bahkan hal seperti tadi
dianggap lucu bagi orang dewasa (termasuk aku). sementara jika orang dewasa
melakukan hal tersebut pasti bikin heboh acara dan ya sekurang – kurangnya di
kira orang gila. Namun begitulah anak – anak bertindak semaunya, asalkan hati
senang just do it and don’t care people.
28 agustus 2013 hari kedua suwida (my mom
says that “suwida negara”)
Hari kedua dan
terpaksa aku harus mengganti kostum. Gak mungkin aku memakai kostum kemarin
yang telah terukir kaligrafi indah berwarna coklat di belakang kerah . Lagi
pula kostum yang awalnya berwarna putih bersih telah berubah corak menjadi
coklat polkadot terkena tumpahan saos. Kostum kali ini hitam tanpa corak.
Ketika aku melihat diriku dicermin dengan setelan baju hitam celana hitam, aku
merasa seperti upil hitam berjalan. Anyway toga suwidaku berwarna dasar hitam
(jelas donk, dimana2 juga gitu warnanya) dengan garis vertikal hijau ditengah
toga serta dilengkapi dengan syal berwarna hijau juga.. Sekilas dengan warna
hijau tersebut aku merasa ini adalah suwida kelas slytherin. Aku merasa seperti
malfoy yang akan di suwida oleh dombledore di hall hogwart schools. aku
memperhatikan sekeliling ruangan dan hal yang menarik perhatianku adalah
suwidawati. They are really care about their look. Hari itu aku melihat wanita
sebagai ondel – ondel dengan make up mereka. Make up mereka amat sangat tebal
dan mencolok. Ya walaupun ada juga make upnya natural dan tipis hingga
menghadirkan kesan sederhana namun mewah. Tapi overall mereka “menor”. Aku
sempat berbincang dengan temen cewekku yang kebetulan bersebelahan denganku
duduknya. Sebut saja inisialnya mira andriani (itu nama asli begok)
“koq telat ko mir”
“telat bangun buat dandan” sambil
membetulkan jilbanya “jam 5 pagi baru sampe aku di salon”
“jadi harusnya jam berapa standarnya
ke salon biar gak telat”
“ya minimal jam 4 sih, biar cepet”
kemudian mira benerin bulu mata ekstensionnya “untung bulu mata ini gak berat,
jadi gak ribet”
“lah emank biasanya bulu mata itu
berat ya”
“iya ada sebagian bulu mata yang
berat, jadi gampang copot”
“ulala, jadi sepulang dari acara,
sebagian wanita bakal berotot donk kelopak matanya”
“lahh koq bisa gitu”
“ya iyalah, kelopak matanya harus
menganggat beban berat yaitu bulu mata ekstension”
“ya gak gitu juga kale”
Aku berpikir
begitu repotnya menjadi wanita ketika suwida. Mereka harus bangun pagi – pagi sekali
kemudian pergi ke salon Cuma buat dandan. Kalo telat dikit aja, alamat mereka
harus menunggu, karena memang saat suwida salon kebanjiran order make up. Biaya
acara suwida pria dengan wanita itu amat sangat jauh berbeda. Itulah mengapa
ada istilah pria berasal dari mars dan wanita berasal dari venus. Dua makhluk
dari planet berbeda, namun meski demikian dibalik seorang pria yang sukses
pasti ada wanita yang sabar.

mantappp gihhh, aq bangun waktu wisuda setengah 8 wak...hahahhaa... lanjutkannn karya mu anak muda... ;)
BalasHapusko enak ol rumah deket, hehehhe
Hapusyours mom is awesome (asem) sugih..wkwkwkwkwkwk
BalasHapuswkwkwkkw, itulah emak ku... sama lah cem aku,hohoho
Hapusemang ceritamu Cetar gih....
BalasHapusne cetar yang gimana bud?
Hapusheheheh