Kamis, 28 November 2013

My day in pekan baru




Udah lebih seminggu aku berada di kota pekan baru. Aku gak ingat pasti tanggal berapa aku berangkat dari medan menuju pekan baru, namun yang masih aku ingat adalah putihnya awan diatas langit medan. Kuala namu terlihat bagaikan rumah para semut,begitu kecil namun kemegahannya masih terlihat. Duduk bersebelahan dengan supervisor teknik yang di juluki bapak suara hantu. Sebut saja pak mesra. Supervisor yang  begitu loyal dengan pekerjaannya. Meski badan tak ada di pabrik, namun suara perintahnya masih sering terdengar di hanphone anak buahnya. Adalah johanes temen satu kerjaanku yang selalu mendapat bisikan gaib darinya. “jones, kamu dimana. Tolong betulkan mesin di line 4” “jones, udah selesai ko perbaiki push button di line 5”. Pak mesra memang total.
Anyway pendaratan di bandara sultan syarif kasim II gak berjalan mulus. Ada goncangan besar ketika mendarat seperti odong – odong yang berjalan cepat melewati speedbumb aka polisi bobok. Meski demikian aku masih selamat, walaupun selama diperjalanan segala macam doa gak pernah lepas aku ucap dalam hati. I get so worry. Aku sedikit takut jika harus berada di pesawat, maklum, maraknya pemberitaan kecelakaan pesawat di televisi membuatku little bit parnok.

De whitte adalah nama hotel yang kami tempati. Hotel bintang 2 yang baru saja di buka tanggal 10 november itu bergaya romawi dari depan dengan mayoritas warna putih. Lokasinya tepat didepan hotel swiss belt dan mal SKA pecan baru. Pertama kali masuk ada bau khas dari hotel ini yang membuat indra penciumanku merespon. Aku gak pernah bias mendeskripsikan baunya like what, but yang perlu kalian tau tempat ini memiliki bau khas, entah itu enak atau enggak tergantung kalian yang mencium, namun bagiku baunya enak. Cukup dengan baunya, kita bicarakan how is the room looks like. The room is fucking awesome, I’ve no idea, in my imagination aku bakal dapat penginapan sekelas hotel melati atau paling beruntung sekelas losmen yang mungkin jika ada air pun  Alhamdulillah. Semua di luar pikiranku, aku mendapatkan kamar yang lumayan bagus dengan design interior yang minimalis, dua tempat tidur dengan sprai berwarna putih yang jika aku tiduri akan terlihat jelas berkas pulau (pulau = berkas air liur) yang telah aku buat selama aku tidur. Kamar mandi dengan shower yang memiliki pemanas. Karena kamar mandi ini aku menjadi lebih rajin mandi disini. 

Temen sekamar aku si andy. Pria tambun berkacamata minus 4, yang jika itu adalah ipk bakal membuatnya tamat dengan predikat summa cumlaude. Hobi andi ini bernyanyi dikamar mandi. Ya memang sih andy bercerita sebentar lagi dia bakal ikut paduan suara gtu, tapi gak mseti latihan dikamar mandi juga kale. Setiap pagi aku dipaksa mendengar suara beratnya, meski begitu suaranya gak jelek2 amat juga koq, hehhhehehe. Eh ada satu lagi ding kebiasaannya yang memang buat aku sedikit terganggu. Kebiasaannya ngoroknya itu loh. Suara ngoroknya udah macam suara truck yang mencoba naik tanjakan berlumpur dan dipaksa langsung masuk gigi 4. Kalian bias bayangkan gimana suaranya. Tapi ya, memang dasarnya aku tukang tidur, aku tetep bisa nyenyak juga koq, hehhehe.