Udah lebih seminggu aku berada di kota pekan baru. Aku gak
ingat pasti tanggal berapa aku berangkat dari medan menuju pekan baru, namun
yang masih aku ingat adalah putihnya awan diatas langit medan. Kuala namu terlihat
bagaikan rumah para semut,begitu kecil namun kemegahannya masih terlihat. Duduk
bersebelahan dengan supervisor teknik yang di juluki bapak suara hantu. Sebut saja
pak mesra. Supervisor yang begitu loyal
dengan pekerjaannya. Meski badan tak ada di pabrik, namun suara perintahnya
masih sering terdengar di hanphone anak buahnya. Adalah johanes temen satu
kerjaanku yang selalu mendapat bisikan gaib darinya. “jones, kamu dimana. Tolong
betulkan mesin di line 4” “jones, udah selesai ko perbaiki push button di line
5”. Pak mesra memang total.
Anyway pendaratan di bandara sultan syarif kasim II gak
berjalan mulus. Ada goncangan besar ketika mendarat seperti odong – odong yang
berjalan cepat melewati speedbumb aka polisi bobok. Meski demikian aku masih
selamat, walaupun selama diperjalanan segala macam doa gak pernah lepas aku
ucap dalam hati. I get so worry. Aku sedikit takut jika harus berada di
pesawat, maklum, maraknya pemberitaan kecelakaan pesawat di televisi membuatku
little bit parnok.
De whitte adalah nama hotel yang kami tempati. Hotel bintang
2 yang baru saja di buka tanggal 10 november itu bergaya romawi dari depan
dengan mayoritas warna putih. Lokasinya tepat didepan hotel swiss belt dan mal
SKA pecan baru. Pertama kali masuk ada bau khas dari hotel ini yang membuat
indra penciumanku merespon. Aku gak pernah bias mendeskripsikan baunya like
what, but yang perlu kalian tau tempat ini memiliki bau khas, entah itu enak
atau enggak tergantung kalian yang mencium, namun bagiku baunya enak. Cukup dengan
baunya, kita bicarakan how is the room looks like. The room is fucking awesome,
I’ve no idea, in my imagination aku bakal dapat penginapan sekelas hotel melati
atau paling beruntung sekelas losmen yang mungkin jika ada air pun Alhamdulillah. Semua di luar pikiranku, aku
mendapatkan kamar yang lumayan bagus dengan design interior yang minimalis, dua
tempat tidur dengan sprai berwarna putih yang jika aku tiduri akan terlihat
jelas berkas pulau (pulau = berkas air liur) yang telah aku buat selama aku
tidur. Kamar mandi dengan shower yang memiliki pemanas. Karena kamar mandi ini
aku menjadi lebih rajin mandi disini.
Temen sekamar aku si andy. Pria tambun berkacamata minus 4,
yang jika itu adalah ipk bakal membuatnya tamat dengan predikat summa cumlaude.
Hobi andi ini bernyanyi dikamar mandi. Ya memang sih andy bercerita sebentar
lagi dia bakal ikut paduan suara gtu, tapi gak mseti latihan dikamar mandi juga
kale. Setiap pagi aku dipaksa mendengar suara beratnya, meski begitu suaranya
gak jelek2 amat juga koq, hehhhehehe. Eh ada satu lagi ding kebiasaannya yang
memang buat aku sedikit terganggu. Kebiasaannya ngoroknya itu loh. Suara ngoroknya
udah macam suara truck yang mencoba naik tanjakan berlumpur dan dipaksa
langsung masuk gigi 4. Kalian bias bayangkan gimana suaranya. Tapi ya, memang
dasarnya aku tukang tidur, aku tetep bisa nyenyak juga koq, hehhehe.
